Senin, 25 Juni 2012

Selimut Kasar

ada saat mata ingin menangis namun tak pula menangis
dia lah yang sedang meratap dalam kesalahan
kemunafikan yang di buatnya sendiri

entah ingin kemana dan sampai kemana
katanya cintanya hanya untuk-Nya
namun, siapa yg tahu tentang arti kertas putih kehidupan

mengukir dalam darah biru
air keruh tak bisa terkuras
siapa yang menjamin, hanyalah dirinya sendiri

angin yang membawa lentera kaca
bukan mutiara yang terpendam di tanah
hanyalah darah yang terus mengalir di hati

--------------------------------------------
entah dia siapa, dia adalah titipan dan Mulyono
orang yang mau mendengarkan kemarahanku
membuat aku tenang walau sementara

dia aku kagumi dengan kediamannya awalnya
tapi kini jauh berbeda perasaanku,,,,
aku masih berusaha mengagumi....
setiap orang pernah menumpahkan tinta hitam,,
namun jangan lantas kita terus memainkan hitam itu,
apa lagi bangga berdiri diatas hitam
atau mungkin prasanka ku saja yang salah
bukankah aku sudah berbagi suka duka
aku tidak mengharap lebih,,
hanya ingin menjadi temanmu,,,,

aku merasakan seperti saat bersama jendral
namun kemarahanku apakah juga sama??
kesabaranku dalam menahan ego ini
ketentraman saat bercerita

andai kau bisa memegang hati ini,,,,,,,,,,,,
bukankah aku lebih memilih sahabat darii pada cinta??
aku menerimamu karena kita saudara bro......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar